Wednesday, 18 November 2015

Oh, Adam...

Kenapa hidup itu nggak lurus aja seperti jalan tol? Aku berfikir bahwa hidupku sudah cukup bahagia hanya dengan Moses, Mama dan Papa tanpa adanya adikku, Adam. Kehadirannya membuat semua kasih sayangku teralihkan untuknya, pada saat dirinya hadir ke dunia, aku masih membutuhkan kasih sayang dari Mama dan Papa yang lebih. Tepat saat kehadirannya pula semua berubah, fokus kasih sayang mereka teralihkan padanya. Terkutuklah Adam kecil yang lucu.
Celakannya, sekarang Adam bersekolah di tempat yang sama denganku, saat  ini aku duduk di kelas dua belas, sebagai senior yang cukup di segani, punya geng yang terkuat di sekolah, dan celakannya juga banyak sekali cewek yang mengejarku. Tapi semua
pusat perhatian jatuh pada Adam saat ia memasuki sekolah ini tiga bulan lalu sebagai anak kelas sepuluh.
“Ses, adik lo lewat, tuh!” ujar temanku. Dan pandanganku mengikuti arah tunjukannya, mendapati Adam sedang melambaikan tangannya ke arahku dan berjalan menuju arah tempatku dan teman-temanku sedang berkumpul.
“Hai, Kak.” Sapanya kepadaku.
“Cabut, gengs!” seruku pada teman-temanku yang lain.
Aku sama sekali tidak mempunyai hubungan baik dengannya, rasa benci ini sudah terpupuk dari lima belas tahun yang lalu, sesaat setelah ia lahir ke dunia. Sudah cukup aku berpura-pura baik terhadapnya di depan Mama dan Papa atau keluarga yang lain, dan tidak untuk di depan teman-temanku. Tidak akan ku biarkan ia merebut teman-temanku dan tidak akan ku biarkan ia merebut lagi apa yang ada pada diriku sekarang. Sudah cukup semua kasih sayang keluarga, tidak lagi dengan keberadaan teman-temanku yang direbutnya.
***
“Ma! Moses pulang!” seruku ketika memasuki rumah.
“Sama Adam nggak, Ses?” tanya Mama langsung. Ya, memang selalu Adam, hanya Adam, prioritas pertama ada pada Adam.
“Nggak, Ma.” Jawabku.
“Kok nggak bareng? Mama sudah masak makanan kesukan dia.” Tanya mama lagi. Dan aku sudah semakin tidak kuat mendengar kata-kata selanjutnya hanya memilih diam lalu beranjak menuju kamar, tanpa menjawab apa-apa.
“Kenapa harus lo? Mama nggak pernah tuh, masakin makanan kesukaan gue dengan sengaja. Oh, sepertinya memang Mama tidak pernah tahu makanan kesukaan gue.” Teriakku setengah frustasi.
Entahlah apa yang harus aku lakukan, terus berpura-pura sebagai anak kuat, anak tegar, anak yang selalu baik di depan keluarga atau membuka semua topeng ini dan mengakui bahwa Moses yang kuat, Moses yang tegar, Moses yang mandiri dan nggak pernah minta macam-macam dari orang tua adalah Moses yang sebenarnya rapuh, haus akan kasih sayang dan membenci adiknya, Adam dengan setengah mati.
“Kak, makan, yuk!” seru Adam yang ternyata sudah sampai di rumah.
“Habisi saja makanan kesukaan lo! Itu bukan makanan kesukaan gue, dan nggak akan pernah menjadi kesukaan gue.” Jawbku. Ini pertama kalinya aku membentak Adam di rumah, biasanya aku hanya diam, lalu ikut memakan makanan kesukaannya dengan topeng bahagia.
“Lo kenapa, kak?” tanyanya lagi. Aku hanya diam tak menjawab, beralih menyalakan music player dari kamar dengan suara keras agar ucapannya tidak terdengar lagi, lalu memilih untuk tidur.
***
“Ses, hari ini anak SMA 1 ngajakin ribut.” Ujar temanku. Kami sedang duduk santai di tempat tongkrongan kami.
Aku menyesap puntung rokokku yang sudah pendek, lalu membuangnya ke tanah. “Sudah, tahu, sebentar lagi juga mereka sampai lokasi, kita cabut sekarang!” perintahku pada yang lainnya.
Kami semua berangkat menuju lokasi tantangan, dan beberapa dari kami sudah siap membawa perlengakapan tawuran seperti batu, rantai, dan lain sebagainya. Tapi langkahku terhenti ketika di tengah perjalanan sang sumber masalah dalam hidupku muncul. Adam.
“Ses, adik lo!!” seru salah satu temanku.
“Lo lanjut ke lokasi, gue urus sumber masalah ini dulu!” perintahku lagi kepada yang lain.
“Kak, lo gila, ya? kalau Mama dan Papa tahu lo pasti habis, kak!” tukasnya.
“Mama dan yang lain nggak akan tahu kalu lo nggak ngadu! Jadi sekarang mending lo diam, dan pulang!” sahutku dengan geram. Aku kembali meneruskan perjalanan dan terkutuklah Adam dewasa yang sok ikut campur yang ternyata mengikutiku.
Aku berusaha mengencangkan laju motorku dan mengambil jalan yang susah agar ia tidak mengikutiku lagi. Ternyata ia tidak mengerti juga maksudku yang mengusirnya. Jadi masa bodo dengan keadaannya nanti jika sudah memasuki area tawuran nanti. Ia sendiri yang mengambil resiko untuk mengikuti tawuran ini, tanpa bantuan, dan tanpa pendamping.
“Woi! Keluarin alat!” seru gue ketika sudah memasuki arena tawuran, celakalah Adam yang ternyata sudah jatuh beberapa meter di depan motorku.
“Ses! Adik lo!” ujar salah salah satu temanku. Ya aku memang tahu itu adikku. Adikku yang terkapar sudah tak berdaya, adikku yang sangat ku benci, adikku yang ku harap tidak pernah ada di dunia.
“Bantu gue bawa kerumah sakit, yang lain tetap lawan!” seru gue lagi dan lagi.
***
“Kamu ini kenapa, Ses? Kenapa bisa tawuran segala?” tanya Mama sambil memarahiku.
“Kamu harus bayar semuanya, Ses!” ujar Papa dengan sangat lantang dan tegas, itu tanda bahwa Papa sudah sangat marah.
Aku lelah menjadi pusat kesalahan, aku lelah menjadi terus yang tersakiti. Aku memilih pergi pada saat itu juga, pulang kerumah. Entah mengapa ternyata lelaki juga bisa menangis. Air mataku tumpah, rasa benci, kesal, marah, semua terluap menjadi sebuah tangisan.
Aku memasuki kamar Adam dan mengacak-ngacak semua isinya sampai ku temukan sebuah buku yang ternyata berisi catatan kehidupannya. Itu membuatku semakin memandang dirinya lemah dan rendah.
“Lo tahu, Dam? Lo itu banci! Lo ngerebut semua dari gue, dan sekarang apa? Gue udah berusaha bilang jangan ikut campur urusan gue, dan lo ngotot. Jadinya apa? Celaka! Lemah, lo tahu? Lo lemah! Lo baru kepukul oleh rantai, Dam! Bukan kepukul kenyataan!” teriaku memarahi Adam. Lebih tepatnya foto Adam yang terpajang di dinding kamarnya.
“Dan lo lihat? Lo laki, Dam! Dan lo menulis diary layaknya anak perempuan!” kataku lagi seraya membukanya kemudian membaca lembar demi lembar.
“Gila, gila, gila.” Aku membacanya dan kembali meneteskan air mata semakin deras. Aku salah. Iya, aku salah.


“Kak Moses, gue tahu gue adik yang nggak berguna, gue tahu kalau lo nggak pernah menginginkan kehadiran gue ke dunia, gue tahu lo sangat menyayangi Mama dan Papa, gue juga tahu lo berat untuk membagi kasih sayang mereka untuk gue. Tapi lo salah, Kak. Lo salah kalau lo mikir semua kasih sayang mereka ditumpahkan seluruhnya ke gue, lo salah kalau lo berkata di keluarga kita nggak pernah ada yang memandang lo! Lo harus tahu bahwa lo, lo adalah Moses. Moses yang dari dahulu di banggakan Mama, Papa, keluarga besar dan tentunya gue. Lo harus tahu juga bahwa selama ini gue yang iri, gue yang iri kenapa gue nggak bisa jadi seperti lo, lo yang kuat, tegar, dan mandiri. Gue yakin suatu saat lo bisa baca tulisan gue, dan gue harap dengan ini lo bisa ngerti. Gue sayang lo, Kak. Walaupun sejak lima belas tahun yang lalu, lo sudah membenci gue, tapi nggak buat gue. Buat gue lo tetap abang yang hebat, abang yang kuat, dan abang yang tegar, lo bisa menyembunyikan semua rasa benci itu bertahun-tahun dari Mama Papa dan keluarga besar. Maafkan gue, Kak. Gue nggak pernah meminta untuk lahir ke dunia, tetapi Tuhan memilih gue hadir di hidup lo, gue hanya ingin yang terbaik untuk lo. Gue berencana akan pergi, entah pergi ke mana, gue bisa pikirkan nanti, gue bisa buat banyak alasan agar Mama dan Papa percaya, dan dengan itu juga gue harap lo bisa mendapatkan kembali kasih sayang Mama dan Papa. Gue sayang lo, Kak Moses, kakak gue yang kuat, tegar, mandiri.”
“Kenapa lo nggak bilang, Dam? Lo bego!” umpatku.
Aku memutuskan untuk kembali menuju rumah sakit di mana Adam di rawat, lima belas tahun menyimpan rasa benci terhadap orang yang nggak mengerti. Lima belas tahun dendam ini semakin mengakar, dan sekarang aku sadar. Aku yang egois, aku yang nggak pernah mengerti hidup ini, aku yang tak pernah bersyukur dan aku yang nggak pernah mau mengalah.
“Ma, Pa.” Kataku ketika bertemu Mama dan Papa. Mata mereka semuanya merah, dan bercucuran air mata.
“Telat, Ses. Suadah terlambat kamu datang sekarang. Adam sudah nggak ada.” Ujar Papa.
“Ginjal Adam rusak terkena pukulan rantai, dan pukulan rantai itu masih berbekas pada kulit tubuhnya.” Kali ini Mama yang angkat bicara.
Oh Tuhan! Ternyata memang hidup nggak akan pernah bisa mulus seperti jalan tol.
***
Hari itu juga, Adam di makamkan, dan hari itu juga, aku menceritakan semuanya terhadap kedua orang tuaku, segala rasa amarah, benci, kesal, dendam yang ku pendam selama lima belas tahun ini, ku bongkar semuanya. Aku merendahkan diriku sebagai Moses yang lemah, Moses yang hancur lebur, Moses yang penuh dusta dan Moses yang hanya nol besar.
Mama dan Papa mengerti, dan mereka juga meminta maaf kalau mereka tidak menunjukan kasih sayang mereka terhadapku, yang terlihat hanya selalu Adam, tetapi dari lubuk hati mereka, mereka juga mencintaiku.
“Terimakasih Adam, seorang adik yang tak pernah mendapat tempat di hati sang kakak yang egois, dan penuh kepalsuan. Terimakasih atas cinta lo kepada gue sebagai adik, dan terkahir terimakasih atas pengorbanan lo yang rela pergi.” Ucapku dalam hati, seiring mendoakan Adam yang sudah tak dapat ku jumpai lagi.          







Jakarta, 17 September 2015.



Abigail Lovelya.






Halo!! Sebenernya ini cerpen yang gue buat untuk membantu teman, jadi dia di suruh sama gurunya membuat cerpen, tapi karena menurut gue cerpennya dia nggak banget, akhirnya gue dengan senang hati membantunya.
Sudah lama juga berniat memposting ini ke dalam blog, ya, tapi baru sempat sekarang. Semoga cerpen ini dapat diterima dengan baik dan kurang lebihnya gue minta maaf karena sejujurnya gue nggak pinter bikin cerpen, hahaha.

Sampai bertemu di postingan selanjutnya, bye-bye. :)

No comments:

Post a Comment