Tuesday, 12 January 2016

Tetap Menjadi Mimpi

Hallo semuanya! Seneng ya, kalo setiap minggu bisa konsisten gini ngeblognya. Hihihi. Kali ini gue mau nyoba post salah satu cerpen gue. Cerpen ini gue bikin hampir 8 bulan yang lalu gitu, gue kasih judul 'Tetap Menjadi Mimpi" nggak tahu sih kenapa, pengen aja. Silahkan dibaca! :)

***
Aku Bianca Setiadi, cewek sederhana yang masih duduk di bangku SMA kelas 2, jurusan IPA. Cewek yang juga tengah merasakan indahnya jatuh cinta, jatuh cinta kepada cowok setengah bule bernama Jonathan.

Dan aku, aku hanyalah setitik debu bagi Jonathan. Ya, setitik debu. Tidak memiliki arti. Jonathan sang kapten tim basket, Jonathan sang ketua OSIS, Jonathan yang berkali-kali menyumbang medali emas untuk sekolah. Dan aku, aku hanya cewek biasa yang mengaguminya dari jauh.
Seperti biasa, setiap hari selasa Jonathan dan timnya akan berlatih basket sepulang sekolah, aku adalah satu dari sekian banyak cewek-cewek yang juga mengaguminya, yang mungkin juga menaruh hati kepadanya.
Aku duduk di samping temanku yang bernama Diana, Diana dan yang lain mengelu-elukan nama Jonathan dengan semangat. Seakan-akan jiwa mereka ikut terbang bersama Jonathan yang melompat keatas untuk memasukan bola kedalam ring.
Tidak seperti yang lain, aku memilih untuk hanya duduk dam, tidak berkata apapun. Karena bagiku setiap gerakan dari tubuhnya membuatku merasa damai, membuatku merasakan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Ketika hari semakin sore, latihan itu pun berakhir. Semua orang beranjak pulang, termasuk Jonathan. Berbeda dengan aku, aku yang penggemar berat langit sore memilih untuk tetap tinggal sampai satpam sekolah yang biasa berkeliling mengusirku. “Aduh, neng. Pulang, sudah sore! Bapak mau cepat-cepat kunci gerbang.” Begitu tuturnya setiap saat.
Tetapi hari ini ada yang berbeda, Jonathan masih berada di sana, masih asik bermain dengan bolanya seakan ia dan bolanya adalah satu jiwa yang tidak bisa terlepaskan. Aku hanya bisa diam kagum, dan mensyukuri kebiasaanku untuk tetap tinggal sampai sore. Mataku tidak mau lepas dari tubuhnya sampai ketika matanya menangkap mataku. Pada saat itu juga jantungku berdebar tidak menentu. Aku membuang muka dari hadapannya dan berusaha menemukan fokus lain untuk ku pandangi.
“Hei...” suara itu, suara Jonathan. Ya, ia menghampiriku dan menyapaku.
“Eh? Lu ngomong sama gue?”  tanyaku memastikan.
“Kayaknya disini nggak ada orang lain selain lo dan gue.” Ujarnya.
Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal dan tersenyum kikuk.
“Lo yang biasa suka nontonin gue dan temen-temen gue latihan kan?” tanya Jonathan.
“Hm. Perasaan lo aja kali, gue emang suka nongkrong disini kok kalau pulang sekolah, dan kebetulan setiap hari selasa lo dan temen-temen lo latihan basket.” Jawabku sedikit berbohong, mau dikemanakan muka ku kalau ia sampai tahu kalau aku memang benar menontonnya bermain basket?
“Ah, masa? Kalau lo suka nongkrong disini, kok gue gak pernah liat lo disini hari-hari biasa? Lagian kok, nongkrong di lapangan? Orang-orang nongkong di mall, lo malah aneh, lapangan dijadikan tempat buat nongkrong. Dapat salam, tuh, dari aspal. Haha.” Tukas Jonathan.
Dan aku baru tahu kalau Jonathan sebawel ini, segampang dan semudah ini berinteraksi dengan orang lain. Ya, aku sadar sih, siapa yang akan grogi kalau hanya mengobrol dengan orang semacam aku? Berbeda kalau aku yang mengajaknya mengobrol, kata-kata yang keluar dari mulutku bisa berantakan semuanya.
“Kok diam? Haha, gue terlalu bawel, ya?” Tanya Jonathan lagi.
“Eh, nggak kok. Cuma bingung aja mau ngomong apa.” Jawabku.
“Boleh duduk disitu?” tanyanya, sambil menunjuk tempat duduk kosong di sebelahku.
“Silahkan.”
Jonathan duduk di sebelahku, ikut bersamaku memandang langit sore yang mulai mengeluarkan warna indahnya. Jingga.
“Lo suka mandangin langit sore gini?” Tanya Jonathan.
“Suka banget. Gue suka aja sama warna jingganya, indah, kayak emas.”
“Gue juga suka, wah asik juga ya, kita punya sesuatu yang kita sama-sama suka.” Ujar Jonathan.
Aku tidak menjawab lagi perkataannya, aku hanya menikmati saat-saat ini dan berharap bahwa ini bukan mimpi. Karena masalahnya mimpi cepat sekali berakhir. Berharap kalau besok dan seterusnya kita bisa terus bersama kayak gini.
“Hei kalian!!” Suara, ada suara yang membuat kita berdua terkejut.  Pak Satpam yang biasa mengusirku sudah datang, pasti sebentar lagi gerbang akan ditutup.
“Neng Bianca, ya?” tanya Pak Satpam dari jauh, ya dia memang sudah mengenaliku.
“Nama lo Bianca?” tanya Jonathan.
“Ya, dan gue tahu lo Jonathan.” Tukasku. “Sepertinya kita harus cabut, deh. Kalau nggak bisa gawat.” Kataku lagi sambil bersiap untuk berdiri, dan itu semua terhalang oleh tangan Jonathan yang menahan tanganku.
“Kita bisa jadi temenkan?” tanya Jonathan lagi.
Dan aku hanya bisa mengangguk, walau dalam hati aku berteriak kegirangan, berharap nggak hanya menjadi teman tetapi lebih. Pacar mungkin? Ya, kita lihat saja nanti. Aku segera berlari meninggalkanya, membungkuk maaf di hadapan Pak Satpam, dan kemudian melanjutkan lari sampai ke rumah.
***
Rabu malamnya, aku masih asik membayangkan kejadian kemarin sore di dalam kamarku. Sampai suara Mama melemparkanku kembali ke dunia nyata. “Bi, temanin Mama ke salon, yuk? Salon yang di mall gak jauh dari rumah.”
“Aduh, Mama sendiri aja, ya? Aku lagi nggak ada niatan nyalon, Ma.” Ujarku.
“Mama males sendirian di dalam mobil, seenggaknya kamu gak perlu ikut nyalon, kamu boleh jalan-jalan atau belanja, nanti Mama kasih credit card Mama, deh.” Bujuk Mama.
Ya, kalau sudah begini, mau bagaimana lagi? Aku  jadi terpaksa ikut, nggak bisa lagi deh membayangkan kejadian kemarin sore.
Sesampainya di mall, Mama memberikanku credit cardnya lalu kami berpencar, Mama menuju salon, dan aku memilih untuk pergi ke arena bermain. Lalu mataku melihat arena bermain basket masih ada yang kosong, segera saja aku menghampiri tempat itu lalu menggesekan kartu member ke mesinnya.
“Lumayan, sekalian latihan, selama ini aku nggak pernah bisa bermain bola basket.” Ujarku dalam hati.
Orang di sebelahku menpuk pundakku, ketika mesin permainan bola basket yang ku mainkan berhenti. “Bianca! Bianca, kan?” tanyanya. Dan itu... Jonathan.
“Eh? Jonathan, ya? Main juga?”
“Iya, nih, sama pacar gue.” Katnya sambil menunjuk orang di belakangnya yang masih melanjutkan permainan.
Tunggu, apa katanya? Pacar? Oh, Tuhan... pacar???
“Oh. Hehe.” Aku nggak tahu apa yang harus kukatakan lagi, rasanya aku sudah tidak menginjak tanah lagi.
“Bisa ketemu di sini, ya. Gak nyangka banget.” Kata Jonathan lagi.
“Ya, gak nyangka, ya?” ucapku kaku. “Siapa juga yang nyangka bakal ketemu sama lo disini, Jo? Sama pacar lo pula!” Maki ku dalam hati.
“Oh iya, gue duluan, ya? Kayaknya nyokap gue udah nyariin, deh. Dah...” Ujarku lalu segera berlari meninggalkan arena bermain itu.
“Ya Tuhan!” Umpatku kesal. Kenapa kayak gini? Kenapa nggak kepikiran dari dulu coba kalau Jonathan itu udah punya pacar, cowok sekeren itu, gimana mungkin nggak punya pacar? Kok gue bodoh banget, sih?
Ternyata mimpiku bisa menjadi kekasih Jonathan itu memang hanya mimpi nggak akan bisa menjadi kenyataan, dan rasa yang ada di dalam hatiku ini, hanya cukup sampai di sini. Dan semua rasa ini harus segera hilang. Entah bagaimana, dan akhirnya kasih ini memang tidak akan pernah bisa tersampaikan.
Ya, mungkin Jonathan bukan orang yang di takdirkan untukku, ya mungkin saat ini seperti itu, aku hanya butuh waktu menenangkan diri, dan belanja mungkin salah satunya. Aku sangat bersyukur sekali nggak jadi menolak ajakan Mama.
***
Walaaa... Sekian untuk hari ini, terimakasih sudah membaca, tetap ditunggu postingan selanjutnya yaaaa. ^^

No comments:

Post a Comment